Upacara Tuha biasanya dilaksanakan pada pagi hari di Amba Na’r (Pasar raya), disaat suasana pasar dipenuhi hiruk pikuk pembeli dan penjual. Para Ncuhi dengan Majelis Hadat sibuk mempersiapkan perhelatan Upaca Tuha.Sesuai dengan ketentuan adat, Tuha dilakukan oleh Ncuhi Dara yang didampingi oleh Ncuhi Parewa, Ncuhi Banggapupa, Ncuhi Doro Wuni dan Ncuhi Bolo serta ikut pula menyaksikan para anggota Majelis Hadat. Pada dasarnya Upacara Tuha adaadalah suatu bentuk penggambaran nyata dari sikap demokrasi di Kerajaan/Kesultanan Bima, dimana sebagai calon Raja/Sultan, Jena Teke diingatkan oleh para Ncuhi sebagai wakil masyarakatnya agar dalam menjalankan roda pemerintahann tidak sampai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan Agama serta norma-norma adat yang berlaku ( dalam bahasa Bima disebut ‘Mancemba’). Apabila melakukannya juga maka Raja/Sultan akan disapa dengan sebutan “Nggou” ( bahasa yang paling kasar yang berarti sangat hina dina ). Penyampaian para Ncuhi dalam mengingatkan calon Raja/Sultan dilakukan dengan cara kasar, namun harus diterima dengan lapang dada tanpa kemarahan calon Raja/Sultan, bahkan dengan kerendahan hati Beliau berjanji untuk menjalankan pemerintahan dengan memegang teguh falsafah hidup Dou Mbojo”Maja Labo dohu”, dan siap menjadi Hawo ro ninu (Pengayom dan pelindung. Bagi Dou Labo Dana (Rakyat dan negeri) sesuai ikrarnya “Toho mpara nahu sura dou ma labo dana” Mendengar ikrar ini para Ncuhi kemudian memberikan pernyataan setia yang terucap “ Sariwuna ana sangaji, sabua mpa di nemba” (seribu putera-puteri Raja /Sultan cuma satu yang dihormati dan ditaati). Selamat menyaksikan acara ini, semoga dapat menambah wawasan adat tradisi daerah yang perlu kita jaga dan dilestarikan sepanjang masa. Abah Asep Bid Informasi