KARNAVAL PRAJURIT TRADISIONAL NUSANTARA TMII Minggu, 2 Nopember 2008Â Pukul 15.00 WIB Di Plaza Tugu Api Pancasila
Sebagai penutup sekaligus acara puncak dari Pekan Budaya TMII tahun 2008 akan digelar Wira Budaya, yakni mengangkat kembali keberadaan warisan budaya berupa keanekaragaman prajurit kerajaan yang dimiliki sejumlah daerah di Tanah Air. Keragaman para tentara tradisional itu akan ditunjukkan pada gelar yang bertajuk Karnaval Prajurit Tradisional Nusantara di Plaza Tugu Api Pancasila, Minggu, 2 Nopember 2008 mulai pukul 15.00 WIB. Karnaval nasional tahun ini diikuti oleh kontingen hampir seluruh dari 33Â provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Masing masing kontingen diperkuat sekitar 100 orang prajurit, sehingga peserta arak-arakan akan mencapai kurang lebih 4000 prajurit yang akan berparade menampilkan sejarah kepahlawanannya masing-masing.
Biasanya, setiap kerajaan memiliki pasukan tempur. Setiap anggota prajurit tempur ini adalah orang-orang pilihan. Kalimantan Barat, misalnya menampilkan prajurit Laskar Putri Kemuning yang dibentuk masa pemerintahan Kesultanan Pontianak. Pasukan ini terdiri dari para wanita pilihan yang telah dibekali dengan ilmu beladiri berfungsi selain sebagai laskar dalam perang, juga sebagai pengiring dalam menyambut tamu kehormatan para Panglima Kesultanan yang akan menghadap Baginda Sultan. Peserta lainnya adalah dari dari Provinsi Jawa Timur dengan menampilkan pasukan Cahyaning Majapahit berasal dari bumi Singosari, pedukuhan kecil Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan pasukan Raden Wijaya.
Selain provinsi Kalimantan Barat, Jawa Timur, provinsi lainnya antara lain adalah Lampung dengan prajurit Batin Mangunang, Jawa Tengah menampilkan prajurit Sunan Kudus Mengusir Kegelapan, Riau menyajikan Laskar Cik Puan, Daerah Istimewa Yogyakarta menampilkan pasukan Bregada Bremara Geni, Jawa Barat mengetengahkan pasukan para Kesatria Paragabaya, dan provinsi DKI Jakarta mengandalkan pada pasukan Untung Surapati.
Kegiatan kirab wrabudaya prajurit tradisional ini bertujuan menumbuh-kembangkan semangat patriotis, khususnya generasi muda agar mengenal sejarah dan perjuangan bangsa di jaman dahulu. Selain itu kegiatan ini dikaitkan dalam rangka menyambut hadirnya hari bersejarah seperti Hari Ulang Tahun TNI ke 63 dan Hari Pahlawan 10 November.
Karnaval ini juga merupakan wahana pentas bersama dari beragam karakter budaya yang berbeda, namun sesama warga masyarakat dari suatu daerah intinya kita saling mengenal, memahami dan menghargai yang berujung pada terpeliharanya toleransi integritas rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, selama Pekan Budaya berlangsung di Anjungan Daerah Bengkulu digelar pameran benda budaya peninggalan nenek moyang dan pengobatan Alternatif non medis oleh penyembuh alternatif antara lain: Ki Joko Bodo dan Hj. Monalisa (Jateng), I.B. Putra Wirawan (Bali), Gus Rahman (Sulawesi), M. Sorimangaraja S (Sumut), Hj. Sonia Soema (Jabar), Bunda Norma (Kalimantan) dan Ki Edi Alhikmah (Banten) pada tanggal 24 Oktober s/d 2 Nopember 2008. (J. Purnawijaya Alibasa - Manajer Informasi TMII).
|