news

Acara

Lingkungan TMII » news

Taman Cokot

ditulis pada 20 January 2014 | 06:38:34



depan rumah Lempad, sang pelukis ini mentertawainya. ‘’Hai, akan kau jual ke mana kayu bakarmu itu!’’ seru  Lempad kepada Cokot di tahun 1930-an silam.



 



Toh, Cokot tiada bergeming.  Dia kukuh, ketetapan hatinya menggunung, tiada teruntuhkan. Ia malah  membalas ejekan, cemooh, dengan senyum dan keyakinan: buah ciptanya bukan kayu bakar, tapi karya berkeunggulan mutu seni. Pengakuan itu baru ia dapat puluhan tahun setelah berkarya. Semula di toko-toko kesenian di Bali, karyanya hanya diselipkan di belakang, bahkan kerap digeletakkan di gudang, karena tidak laku. Namanya melambung usai kemerdekaan RI, lewat kerja sama Nuratni Artshop di  Jalan WR Supratman, Denpasar, dengan Tropics Traders di AS. Mendapat kiriman karya ‘’aneh’’ Cokot, Tropics Trades lantas mengutus Miss Rose ke Bali. Diantarkan Nuratni, Rose pun  menemui Cokot di rumah asalnya di Banjar Jati. Betapa terkesima Rose melihat sosok seniman dengan karya unggul namun sehari-hari begitu bersahaja, polos, spontan, tidak ‘beraneh-aneh’’ seperti lazim dikenal Rose di negerinya.



 



Dari situ kisah Cokot lantas melambung ke mancanegara. Tahun 1960-an namanya sudah berkibar-kibar di luar negeri setanding dengan penari I Ketut Maria (I Mario). Maestro lukis Affandi pun amat menggemari karya Cokot hingga rumahnya di Yogyakarta dipenuhi takikan Cokotisme.



 



Suatu kali di tahun 1964, ketika menjadi Kepala Subdirektorat Seni Rupa pada Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Depdikbud, pelukis I Nyoman Tusan hendak mencari-caru cenderamata buat melengkapi lawatannya ke Filipina. Di gudang Nurani Artshop dia menemukan empat patung aneh: Durga, Trimurti, Garuda, dan sosok binatang aneh. ‘’Oleh Ibu Nuratni patung-patung itu diberikan cuma-cuma kepada saya karena sudah bertahun-tahun di sana tidak laku,’’ tutur Tusan suatu kali.



 



Di luar negeri, Tusan malah kaget bukan kepalang. Karya patung yang ditenteng-tenteng buat cenderamata itu justru diketahui buatan Cokot. Nama Cokot begitu tenar di luar negeri. Karya-karya diburu, dikoleksi kalangan elite dan lembaga bergengsi. Saking larisnya, saat sang maut menjemput Cokot, tiada satu pun karyanya tersisa di rumahnya. Bahkan, ketika tahun 1977 di Balai Seni Rupa Jakarta, untuk memperingati HUT ke-450 Jakarta, digelar khusus pameran tiga maestro seni Bali, Lempad-Cokot-Nyana, yang dapat ditampilkan buat menghadirkan sosok Cokot cuma empat patung kecil karya aslinya: Gana, Gajahmina, Sato Ngempu, dan Pancarsi. Selebihnya sosok Cokot diwakili para putra dan cucunya yang mengalirkan gaya Cokotisme.



 



Cokot memang mata air sekaligus sang pemula jalan aliran seni bagi keluarganya. Generasi pendahulunya tak mengalirkan darah seni itu secara nyata. Maka Cokot di jagat seni sejatinya otodidak tulen. Bakatnya mencelat dibentuk oleh alam dari tatapan mata. Tidak ada guru khusus, kecuali kemauannya, niat jiwanya. Dari melihat orang lain di desa-desa sekitarnya menakik kayu inilah kemudian dia menemukan jalannya sendiri, dan kelak menjadi Cokotisme, karena gaya demikian diikuti pula oleh anak-anak dan cucunya.



 



Bagi Cokot tugas manusia hidup cuma satu: Bekerja sungguh-sungguh, sepenuh jiwa, hingga menghasilkan karya sebaik-baiknya, sepuncak-puncaknya. Tugas hidup itu pun telah ia lakonkan sungguh-sungguh. Nama Cokot praktis tak bisa dilepaskan dalam guratan sejarah perkembangan seni rupa Indonesia, apalagi Bali. Pada Cokot tradisi justru menjadi akar hayat yang dinamis, bukan daur ulang. Pada Cokot orang bisa menyelami kedalaman akar sekaligus daya hidup kebudayaan Bali.



 



Kedalaman akar itu, nyatanya, tak kunjung habis diselami bahkan hingga hari ‘’kepergiannya’’, kersamaan dengan hari Kesaktian Pancasila: Jumat Paing, Gumbreg, 1 Oktober 1971, saat kokok jago menyambut fajar, pukul 04.00 subuh. Itulah jam yang dalam perhitungan tradisi kewaktuan Bali merupakan momentum pergantian dari hari kemarin menjadi hari ini. Cokot, sejatinya tak pernah menjadi hari kemarin: dia terus saja menjadi hari ini, bahkan melesat jauh ke hari depan.